Minggu, 28 Juni 2020


          Karmelia Maulida
Zat pewarna alami pada lipstick
     Program Studi S1 Farmasi
                        STIKES Borneo Lestari
      Email: karmeliamaulida01@gmail.com

                                                                                                ABSTRAK

Literatur yang meneliti peran kosmetik dalam persepsi sosial telah menemukan bahwa, secara keseluruhan, makeup dikaitkan dengan evaluasi positif seorang wanita . Penelitian terdahulu ini tampaknya menunjukkan bahwa wanita dengan riasan wajah menjadi lebih atraktif. Telah dilakukan uji dengan membatasi penggunaan kosmetik ke area wajah tertentu yang memberi efek daya tarik yang sama. Peneliti menemukan bahwa wajah wanita yang memakai make up penuh dinilai lebih menarik daripada wajah yang sama tanpa makeup, namun juga mendapati bahwa riasan bibir saja menghasilkan tingkat daya tarik rata-rata yang lebih tinggi daripada make up lain. Salah satu aspek yang mendapat perhatian adalah lipstik dan terutama warna bibir. Lipstik adalah sediaan kosmetik yang digunakan untuk mewarnai bibir dengan sentuhan artistik sehingga dapat meningkatkan nilai estetika dalam tata rias wajah.
Kata Kunci : Zat Pewarna Alami, Lipstik.

PENDAHULUAN
Lipstik sering digunakan oleh para wanita, karena bibir dianggap sebagian besar penting dalam penampilan seseorang . Namun, hasil pengawasan BPOM terdapat ratusan merk di pasaran tidak aman digunakan karena kebanyakan berasal dari bahan–bahan sintetik dan menimbulkan efek samping yang merugikan kulit, contohnya alergi dan iritasi. Oleh karenanya, untuk mendapatkan efek yang tidak merugikan dan hasil yang lebih aman untuk bibir, dibuat dengan bahan alami seperti tumbuh – tumbuhan atau buah – buahan. super merah (Hylocereus costaricensis), dengan warna merah yang sangat pekat, menunjukkan buah tersebut mengandung pigmen warna, yang dapat digunakan sebagai bahan pewarna alami pengganti bahan pewarna sintetik. Pada penelitian ekstrak buah naga super merah dengan metanol mengandung senyawa fenol dan betasianin . Kulit dari buah naga merah merupakan limbah yang masih sangat jarang dimanfaatkan. Padahal, kulit buah naga masih mengandung senyawa antioksidan yang cukup tinggi

ISI
                Apakah kandungan buah naga ? Buah naga  atau dengan  nama lain  disebut buah  pitaya memiliki beragam manfaat. Buah ini mempunyai  lima  jenis  varian  dengan  peluang yang  baik  untuk  dikembangkan  di Indonesia,  salah satunya  adalah  buah  naga  dengan  jenis  buah  naga  daging  merah  (Hylocereus  polyrhizus).  Selain manfaat  yang ditemukan  pada  daging  buahnya,  kulit  buah  pitaya  juga  mengandung  zat-zat  yang dapat  memberikan  manfaat.  Seringkali  orang  beranggapan  bahwa  kulit  buahnya  tidak  dapat dimanfaatkan dan akhirnya dibuang. Padahal banyak sekali manfaat yang bisa diambil dari kulit buah pitaya. Dewasa ini, telah dilakukan berbagai penelitian pada kulit buahnya. Beberapa  penelitian  telah  berhasil  mengungkap  kandungan  dalam  kulit  buah  naga.  Kulit buah naga ternyata  mengandung antosianin  . 
Antosianin adalah senyawa  fenolik yang termasuk flavanoid,  bersifat  larut  dalam  air  dan  ditemukan  di  berbagai  jenis  tanaman.  Antosianin  ini mengakibatkan warna merah-ungu pada bunga dan buah-buahan. Pada  kehidupan  sehari-hari,  antosianin  berfungsi  sebagai  zat  warna  alami.  Karakteristik antosianin  sebagai  zat  pewarna  alami,  memberikan  manfaat  sebagai  antioksidan  bagi  tubuh. Antosianin  dapat  mencegah  terjadinya  aterosklerosis,  penyakit  penyumbatan  pembuluh  darah. Antosianin  bekerja  menghambat  proses  aterogenesis  dengan  mengoksidasi  lemak  jahat  dalam tubuh, yaitu lipoprotein densitas rendah . Dari  hasil  percobaan,  ekstraksi  pigmen  antosianin  pada  kulit  buah  naga  daging  merah menghasilkan kadar antosianin yang besar yaitu 22,59335 ppm.
Hal ini disebabkan karena kulit buah naga  daging  merah  memiliki  pigmen  antosianin  yang  memberikan  warna  cerah.  Kulit  buah  naga merah ditemukan mengandung pigmen antosianin berjenis sianidin 3-ramnosil glukosida 5-glukosida . Selain  mengandung  antosianin,  pengujian  dengan  metode  fitokimia  Fourier  Transform Infrared  (FTIR),  kulit  buah  naga  merah  ditemukan  positif mengandung  senyawa  alkaloid,  steroid, saponin,  dan  tanin  serta  vitamin C . Alkaloid adalah  senyawa  basa  bernitrogen  yang  dihasilkan tumbuhan atau bahan tumbuhan yang mengandung nitrogen dan larut dalam air. Alkaloid sering kali bersifat  optis  aktif,  dan  kebanyakan  berbentuk  kristal  tetapi  hanya  sedikit  yang  berupa  cairan (misalnya  nikotina)  pada  suhu  kamar.  Alkanoid  berfungsi  untuk  untuk  memacu  sistem  saraf, menaikkan atau  menurunkan tekanan darah, dan melawan infeksi mikrobia .
Buah naga selain rasanya manis dan segar, diyakini banyak memberikan manfaat bagi kesehatan karena memiliki kandungan unsur-unsur yang bermanfaat untuk menjaga kesehatan. Bagian- bagian buah naga terdiri dari kulit buah naga, daging buah dan biji. Kulit buah naga dapat dimanfaatkan sebagai pewarna alami lipstick dan juga pewarna alami makanan, daging buahnya dikonsumsi sebagai produk pangan, dan bijinya dimanfaatkan dalam pengembangbiakan bibit secara generative.
Manfaat lain  buah naga yang tidak kalah pentingnya bagi kesehatan jasmani adalah bahan antioksidan yang dikandungnya. Antioksidan adalah zat yang bisa menghambat proses penuaan atau kematian sel atau jaringan. Oleh karenanya pengonsumsi buah-buahan akan terjaga kulitnya dari keriput dan awet muda.
Tanaman buah naga yang dibudidayakan terdapat empat jenis, antara lain Hylocereus undatus (buah naga yang memiliki kulit berwarna merah dan daging berwarna putih), Hylocereus polyrhizus (buah naga yang memiliki kulit berwarna merah dan daging berwarna merah keunguan), Hylocereus costaricensis (buah naga yang memiliki kulit berwarna merah Ekstrak Kulit Buah Naga Merah  dan daging berwarna super merah), dan Selenicereus megalanthus (buah naga yang memiliki kulit berwarna kuning dan daging berwarna putih) (Kristanto, 2008).
Berdasarkan data statistik Dinas Pertanian Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Banyuwangi tahun 2016, produksi buah naga meningkat dari tahun 2013 sebanyak 16.63 ton menjadi 28.82 ton pada tahun 2014. Sementara persentase kulit buah naga merah adalah 30% hingga 35% dari berat buahnya (Saati, 2009). Limbah kulit buah naga dapat bermanfaat sebagai pewarna alami dalam produksi pangan, industri maupun bidang farmakologi (Cahyono, 2009). Menurut penelitian Puspawati et al. (2013), pemanfaatan limbah kulit buah sebagai ekstrak pewarna alami akan membutuhkan biaya lebih sedikit dan meningkatkan nilai tambah dibandingkan dengan pemanfaatan buahnya, selain itu dapat mengurangi produksi limbah yang mulai meningkat akibat meningkatnya jumlah konsumsi masyarakat.
Buah naga merah mengandung betasianinyang telah terbukti secara invitro sebagai penghambat radikal lipoperoksil di dalam membran mikrosoma (Wu et al., 2006). Betasianin adalah pigmen tumbuhan yang memberikan warna merah ke unguan pada bagian daun dan buah. Sifat dari betasianin adalah larut air, mengandung nitrogen, dan sintesanya ditingkatkan oleh cahaya (Cai et al., 2005). Secara kimia betasianin berasal dari asam amino aromatik yaitu 3,4-dihidroksifenilalanina (DOPA) (Herbach et al., 2006). Menurut Coultate (1996), betasianin merupakan salah satu kelompok dari betalain. Betalain dibagi menjadi dua kelompok yaitu betasianin dengan warna pigmen merah keunguan (λmax 534- 555 nm) dan betaxantin dengan warna pigmen kuning (λmax 480 nm). Perbedaan betasianin dan antosianin adalah pengaruh perubahan pH, dimana betasianin lebih lemah oleh hidrolisis asam. Menurut penelitian Wu et al. (2006), hasil kandungan antioksidan kulit buah naga.

KESIMPULAN
Antosianin adalah senyawa  fenolik yang termasuk flavanoid,  bersifat  larut  dalam  air  dan  ditemukan  di  berbagai  jenis  tanaman.  Antosianin  ini mengakibatkan warna merah-ungu pada bunga dan buah-buahan. Pada  kehidupan  sehari-hari,  antosianin  berfungsi  sebagai  zat  warna  alami.  Karakteristik antosianin  sebagai  zat  pewarna  alami,  memberikan  manfaat  sebagai  antioksidan  bagi  tubuh. Antosianin  dapat  mencegah  terjadinya  aterosklerosis,  penyakit  penyumbatan  pembuluh  darah. Antosianin  bekerja  menghambat  proses  aterogenesis  dengan  mengoksidasi  lemak  jahat  dalam tubuh, yaitu lipoprotein densitas rendah . Dari  hasil  percobaan,  ekstraksi  pigmen  antosianin  pada  kulit  buah  naga  daging  merah menghasilkan kadar antosianin yang besar yaitu 22,59335 ppm.
Hal ini disebabkan karena kulit buah naga  daging  merah  memiliki  pigmen  antosianin  yang  memberikan  warna  cerah.  Kulit  buah  naga merah ditemukan mengandung pigmen antosianin berjenis sianidin 3-ramnosil glukosida 5-glukosida . Selain  mengandung  antosianin,  pengujian  dengan  metode  fitokimia  Fourier  Transform Infrared  (FTIR),  kulit  buah  naga  merah  ditemukan  positif mengandung  senyawa  alkaloid,  steroid, saponin,  dan  tanin  serta  vitamin C . Alkaloid adalah  senyawa  basa  bernitrogen  yang  dihasilkan tumbuhan atau bahan tumbuhan yang mengandung nitrogen dan larut dalam air. Alkaloid sering kali bersifat  optis  aktif,  dan  kebanyakan  berbentuk  kristal  tetapi  hanya  sedikit  yang  berupa  cairan (misalnya  nikotina)  pada  suhu  kamar.  Alkanoid  berfungsi  untuk  untuk  memacu  sistem  saraf, menaikkan atau  menurunkan tekanan darah, dan melawan infeksi mikrobia .
Steroid merupakan penyusun  antosianin  yang  berfungsi  sebagai  zat  warna  alami.  Sementara  saponin  adalah    jenis glikosida yang banyak ditemukan pada tumbuhan. Saponin ini memiliki manfaat untuk menstimulasi jaringan tertentu seperti epitel hidung, bronkus, dan ginjal .

                                                                                    DAFTAR PUSTAKA
Adliani, N., Nazliniwaty, Purba D. Formulasi Lipstik Menggunakan Zat Warna Dari Ekstrak Bunga Kecombrang. Journal Of Pharmacology, Vol. 1 (2): 87-94. 2012.
dr. Indah SY & Bagus Supriyanto, S. KM,.2013. Uji aktivitas buah naga merah. Yogyakarta : Ugm press.
Nurliyanah. 2009. Buku panduan tanaman buah naga. Malaysia : Univeeriti Putra Malaysia.
Citramukti, I. 2008. Ekstraksi dan uji kualitas pigmen antosianin pada kulit buah naga merah. Malang : Jurusan teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Pertaniab, Universitas Muhammadiyang Malang.
Handayani, Prima Astuti dan Asri Rahmawati.2012. Pemanfaatan kulit buah naga ( Dragon Fruit) Sebagai pewarna alami pengganti pewarna sintesis. Jurnal Bahan Alam Terbarukan. Vol 1 (2): 19-24.